BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
Eliminasi produk sisa pencernaan yang teratur merupakan aspek
yang penting untuk fungsi normal tubuh. Perubahan eliminasi dapat menyebabkan
masalah pada sistem gastrointestinal dan sistem tubuh lainnya, karena fungsi
usus tergantung pada keseimbangan beberapa factor, pola dan kebiasaan eliminasi
bervariasi di antara individu. Pengeluaran feces yang sering, dalam jumlah
besar, dan karakteristik normal biasanya berbanding lurus dengan rendahnya
insiden kanker kolorektal.
Untuk menangani masalah eliminasi klien, perawat harus memahami
eliminasi normal dan factor-faktor yang meningkatkan atau menghambat eliminasi.
Asuhan keperawatan yang mendukung akan menghormati privasi dan kebutuhan
emosional klien. Tindakan yang dirancang untuk meningkatkan eliminasi normal
juga harus meminimalkan rasa ketidaknyamanan.
B.
RUMUSAN
MASALAH
Dari pembuatan karya tulis ini kami menemukan beberapa
permasalahan yang timbul antara lain :
1. Bagaimana
pencernaan normal dan eliminasi?
2. Factor
apa saja yang mempengaruhi eliminasi?
3. Apa
saja masalah defekasi yang umum?
4. Apa
yang dimaksud diversi usus?
5. Bagaimana
proses keperawatan eliminasi fekel?
C.
TUJUAN
PENULISAN
Secara umum tujuan dan
manfaat kami membuat karya tulis ini antara lain:
1. Untuk
melaksanakan tugas yang diberikan oleh kampus Stikes Wira Medika PPNI Bali
2. Untuk
mengetahui bagaimana pencernaan normal dan eliminasi
3. Untuk
mengetahui factor-faktor yang mempengaruhi eliminasi
4. Untuk
mengetahui masalah defekasi yang umum
5. Untuk
mengetahui diversi usus
6. Untuk
mengetahui proses keperawatan eliminasi fekel
BAB II
PEMBAHASAN
A.
PENCERNAAN
NORMAL dan ELIMINASI
Saluran
gastrointestinal (GI) merupakan serangkaian organ muskular berongga yang
dilapisi oleh membran mukosa (selaput lender) untuk mengabsorpsi cairan dan
nutrisi, menyiapkan makanan untuk diabsorpsi dan digunakan oleh sel-sel
tubuh, serta menyediakan tempat
penyimpanan feses sementara. Selain menelan cairan dan nutrisi, saluran GI juga
menerima banyak sekresi dari organ-organ seperti kandung empedu dan pankreas.
Setiap kondisi yang secara seriua menganggu absorpsi atau sekresi normal cairan
GI, dapat menyebabkan ketidakseimbangan cairan.
1. Mulut
Saluran GI secara mekanis dan
kimiawi memecah nutrisi yang di lakukan di mulut. Gigi mengunyah makanan,
memecahnya menjadi berukuran yang dapat ditelan. Sekresisaliva mengandung
enzim, seperti ptialin, yang mengawali pencernaan unsur-unsur makanan tertentu.
Saliva mencairkan dan melunakan bolus makanan di dalam mulut sehingga lebih
mudah ditelan.
2. Esofagus
Makanan masuk ke esofagus, melalui sfingter esofagus bagian
atas, yang merupakan otot sirkular yang mencegah udara memasuki esofagus dan
makanan mengalami refluks (bergerak ke belakang). Makanan didorong oleh gerakan
peristaltik lambat yang dihasilkan oleh kontraksi involunter dan relaksasi otot halus secara
bergantian. Pada saat bagian esofagus berkontraksi di atas bolus makanan ,otot
sirkular di bawah (atau di depan) bolus berelaksasi. Kontraksi- relaksasi otot
haus yang saling bergantian ini mendorong makanan menuju gelombang berikutnya.
3. Lambung
Makanan disimpan dalam lambung dan
dicerna serta diabsorpsi sehingga menjadi kimus. Lambung menyekresi HCl (mempengaruhi
asam lambung), lender (melindungi mukosa lambung dari keasaman), enzim pepsin(mencerna
protein) dan factor intrinsik(komponen untuk absorpsi vit. B12).
4. Usus
Halus
Usus halus merupakan sebuah saluran,
usus halus dibagi menjadi 3, yaitu duodenum jejunum, dan ileum. Kimus yang
berada dilambung menuju ke usus halus dan bercampur dengan enzim pencernaan
saat menuju usus halus, dan saat bercampur gerakan peristaltik berhenti untuk melakukan absorpsi. Nutrisi dan
elektrolit diabsorpsi dengan enzim dari pancreas dan empedu ke dalam duodenum.
Nutrisi juaga diabsorpsi di jejunum, sedangkan ilum mengabsorpsi vitamin
tertentu, zat besi, dan garam empedu.
5. Usus
Besar
Saluran GI bagian bawah adalah usus
besar yang merupakan organ utama dalam eliminasi fekel. Kimus yang tidak di absorpsi masuk ke dalam
sekum melalui katup ileosekal (lapisan otot sirkula). Volume air, natrium, dan
klorida diabsorpsi oleh kolon, sehingga terjadi kontraksi haustral yang sama
dengann kontraksi segmental di usus halus.
Sebanyak 2,5 L air diabsorpsi oleh
kolon selama 24 jam, 55 mEq natrium, dan 23 mEq klorida. Apabila kecepatan
kontraksi peristaltik berlangsung cepat secara abnormal, maka faces menjadi
encer dan sebaliknya, apabila kontraksi peristaltik lambat, maka feces
menjadi keras. Kolon dilapisi oleh lender berwarna jernih sampai buram dengan
konsistensi berserabut. Lubrikasi pada
ujung distal kolon, tenpan isi kolon menjadi lebih kering dan lebih
keras. Gerakan kolon ada 3, yaitu:
1. Haustral
shuffing adalah gerakan pencampuran kim untuk membantu absorpsi air
2. Kontraksi
haustral adalah gerakan untuk mendorong materi cair dan semipadat sepanjang
kolon
3. Gerakan
peristaltic adalah berupa gelombang, gerakan maju ke anus
Sekresi kolon membantu keseimbangan
asam basa. Bikarbonat disekresi untuk mengganti klorida. 4-9 mEq kaliium
dilepaskan setiap hari. Perubahan serum menjadi fungsi kolon, seperti diare
menyebabkan ketidakseimbbangan elektrolit.
Kolon mengeliminasi produk buangan
dan gas(flatus). Flatus timbul akibat menelan gas, difusi gas dari aliran darah
ke dalam usus dan kerja bakteri yang tidak dapat diabsorpsi. Orang dewasa dalam
kondisi normal mengeluarkan 400-700 ml flatus
setiap hari.
B.
FAKTOR
ELIMINASI
Factor-faktor yang
mempengaruhi proses defekasi, antara lain :
1. Usia
Pada
usia bayi control defekasi belum berkembang sedangkan pada usia lanjut control
defekasi menurun
2. Diet
Makanan
berserat akan mempercepat proses feses, banyaknya makanan yang masuk ke dalam
tubuh juga mempengaruhi proses defekasi
3. Intake
cairan
Intake
cairan yang kurang akan menyebabkan feses menjadi lebih keras, disebabkan
karena absorbs cairan yang meningkat
4. Aktivitas
Tonus
otot abdomen, pelvis, dan diagfragma akan sangatmembantu proses defekasi.
Gerakan peristaltic akan memudahkan bahan feses bergerak sepanjang kolon.
5. Fisiologis
Keadaan
cemas, takut, dan marah akan meningkatkan peristaltic, sehingga menyebabkan
diare
6. Pengobatan
Beberapa
jenis obat dapat mengakibatkan diare atau konstipasi
7. Gaya
hidup
Kebiasaan
untuk melatih pada buang air besar sejak kecil secara teratur, fasilitas buang
air besar, dan kebiasaan menahan buang air besar.
8. Prosedur
diagnostic
Pasien
yang akan dilakukan procedure diagnostic biasanya dipusatkan atau dilakukan
klisma dahulu agar tidak dapat BAB kecuali setelah makan
9. Penyakit
Beberapa
penyakit pencernaan dapat menimbulkan diare dan konstipasi
10. Anestesi
dan pembedahan
Anesthesia
umum dapat menghalangi inpuls parasimpatis, sehingga kadang-kadang dapat
menyebabkan ileus usus. Kondisi ini dapat berlangsung selama 24-48 jam.
11. Nyeri
Pengalaman
nyeri waktu BAB seperti adanya hemoroid, epesiotomi akan mengurangi keinginan
untuk BAB
12. Kerusakan
sensorik dan motorik
Kerusakan
spinal cord dan injuri kepala akan menimbulkan penurunan stimulus sensorik
untuk defekasi.
Faktor yang mempengaruhi eliminasi ada 2, yaitu:
1. Factor
yang meningkatkan eliminasi
a. Lingkungan
yang bebas stress
b. Kemampuan
untuk mengikuti pola defekasi pribadi,privasi
c. Diet
tinggi serat
d. Asupan
cairan normal (jus buah, cairan hangat)
e. Olahraga
(berjalan)
f. Kemampuan
untuk mengambil posisi jongkok
g. Diberikan
laksaktif dan katartik secara tepat
2. Factor
yang merusak eliminasi
a. Stress
emosional (ansietas atau depresi)
b. Gagal
mencetuskan reflex defekasi, kurang waktu atau privasi
c. Diet
tinggi lemak, tinggi karbohidrat
d. Asupan
cairan berkurang
e. Imobilitas
atau tidak aktif
f. Tidak
mampu jongkok akibat imobilitas, usiia lanjut, deformitas musculoskeletal,
nyeri, dan nyeri selamaa defekasi
g. Penggunaan
analgesic narkotik, antibiotic, dan anestesi umum, serta penggunaan katartik
yang berlebihan
C.
DEFEKASI
Klien yang mengalami atau berisiko mengalami masalah elimiinasi
akibat stress emosional (ansietas atau depresi). Perubahan fisiologi pada
saluran GI, perubahan struktur usus melalui pembedahan, program terapi lain
gangguan yang mengganggu defekasi, seperti :
1. Konstipasi
Kontipasi merupakan gejala, bukan
penyakit. Konstipasi adalah penurunan
frekuensi yang diikuti oleh pengeluaran feces yang lama, keras dan kering yang
akan menimbulkan nyeri pada rektum. Biasanya terjadi pengedanan saat defekasi.
Apabila motilitas usus halus melambat, masaq feses lebih lama pada dinding usus
dan sebagian besar kandungan air pada feces diabsorpsi. Penyebab umum konstipasi antara lain :
a. Kebiasaan
defekasi yang tidak teratur
b. Klien
memproduksi diet rendah serat dalam bentuk lemak hewan
c. Tirah
baring yang panjang atau kurangnya olahraga
d. Pemakaian
laksatif yang berat
e. Obat
penenang, opiate, antikolinergik, zat besi yang menyebabkan konstipasi
f. Pada
lansia mengalami perlambatan peristaltic
g. Konstipasi
juga disebabkan oleh kelainan saluran GI
h. Kondisi
neurologis yang menghambat impuls saraf ke kolon
i.
Penyakit organic, seperti hipokalsemia
2. Impaksi
Impaksi adalah kumpulan feses yang
mengeras dan mengendap di rectum dan tidak dapat dikeluarkan. Impaksi feses
diakibatkan doleh konstipasi yang tidak diatasi. Klien yang mengalami
kebingumgan, kelemahan, atau tidak sadar berisiko mengalami impaksi. Apabila
feses diare keluar secara mendadak dan continue dicurigai berisiko impaksi.
Kehilangan nafsu makan (anoreksia), distensi, dank ram abdomen serta nyeri di
rectum dapat menyertai kondisi impaksi.
3. Diare
Diare adalah peningkatan jumlah
feses yang cair dan tidak berbentuk. Diare adalah gejala gangguan yang
mempengaruhi proses pencernaan, absorpsi, dan sekresi di dalam saluran GI. Isi
usus yang terlalu cepat keluar, sehingga absorpsi cairan dapat terjadi dan
iritasi di dalam kolon menyebabkan sekresi lender, sehingga feses encer dan
tidak mampu mengontrol keinginan untuk defeksi. Kondisi yang menyebabkan diare,
antara lain :
a. Stress
emosional
b. Inffeksi
usus
c. Alergi
makanan
d. Intoleransi
makanan
e. Selang
pemberian makanan
f. Obat-obat
zat besi dan antibiotic
g. Laksatif
(jangka pendek)
h. Perubahan
melalui pembedahan gastrektomi
i.
Reseksi kolon
4. Inkontenensia
Inkontinensia feses adalah
ketidakmammpuan mengontrol feses dan gas dari anus. Kondisi yang membuat
defekasi, feses encer, volumenya banyak, dan feses mengandung air bisa
menyebabkan inkontenensia. Inkontenensia dapat membahayakan citra tubuh
5. Flatulen
Flatulen adalah penyebab umum abdomen mejadi penuh, rasa nyeri dan
kram. Dalam kondisi normal, gas dalam usus keluar melalui mulut ( bersendawa)
atau melalui anus (pengeluaran flaktus).
Namun jika ada penurunan mortilitas khusus akibat penggunaan opiate,
agens anestesi umum, bedah abdomen, atau immobilisasi, flatulen dapat menjadi
cukup berat sehingga menyebabkan distensi abdomen dan menimbulkan nyeri yang
terasa sangat menusuk.
6. Hemoroid
Hemoroid adalah vena-vena yang berdilatasi, membengkak dilapisan
rectum. Ada dua jenis hemoroid yakni hemoroid eksternal dan hemoroid internal.
D.
DIVERSI
USUS
Penyakit
tertentu menyebabkan kondisi-kondisi yang mencegah pengeluaran feses secara
normal dari rectum. Ini menimbulkan suatu kebutuhan untuk membentuk
suatu lubang (stoma) buatan
yang permanen atau sementara. Lubang yang dibuat melalui upaya bedah paling
sering dibentuk di ileum (ileostomi) atau dikolon (kolostomi). Ujung usus
kemudian ditarik ke sebuah
lubang di dinding abdomen untuk membentuk stoma. Tergantung pada tipe prosedur
bedah yang dilakukan, jenis stoma yang dibentuk ada dua, yakini klien tidak
akan memiliki control terhadap materi feses yang keluar dari stoma atau klien
memiliki control terhadap pengeluaran feses.
1. Ostomi Inkontinen
Sebuah ileostomi merupakan jalan pintas keluarnya feses
sehingga feses tidak melalui seluruh bagian usus besar. Akibatnya, feses keluar lebih sering dan berbentuk cair. Feses
yang keluar lebih sering dan cair juga
terjadi pada kolostomi dikolon asenden. Kolostomi pada transversal umumnya
menghasilkan feses lebih padat dan berbentuk. Kolostomi sigmoid menghasilkan
feses yang mendekati bentuk feses normal. Terdapat 3 jeniss kolostomi, antara
lain :
a. Loop colostomy
Biasanya dilakukan dalam
kondisi kedaruratan medis yang nantinya kolostomi tersebut akan ditutup. Jenis
kolostomi ini mempunyai stoma yang berukuran besar yang dibentuk di kolon
transversal.
Ahli bedah menarik sebuah
lengkung ke atas abdomen, kemudian membuuka usus dan menjaritnya. Lengkung ostomi
memiliki 2 stoma yaitu ujung proksimal untuk mengeluarnya feces dan distal
untuk mengeluarnya lendir.
b. End colostomy
Terdiri dari 1 stoma yang
dibentuk dari ujung proksimal usus dengan bagian distal saluran GI dapat
dibuang atau dijarit tertutup (kantung Hartmann)
c. Double barrel colostomy
Terdiri dari 2 stoma yang
berbeda yaitu stoma proksimal yang berfungsi dan stoma distal yang tidak
berfungsi.
2. Ostomi Kontinen
Ostomi kontinen adalah deversi kontinen atau reservoir kontinen. Pada sebuah prosedur yang
disebut ileoanal pull-through. Kolon diangkat dan ileum dianastomosis atau
disambungkan ke sfingter anus yang utuh. Tidak setiap klien yang menjalani
kolestomi merupakan kandidat untuk dilakukan prosedurnya ini. Untuk menentukan
kriteria pilihan, dibutuhkan koordinasi yang baik antara klien dan ahli bedah.
Ileostomi kontinen Kock adalah tipe ostomi kontinen lain yang baru. Pada
prosedur ini klien tidak memiliki stoma eksternal yang permanen dan tidak perlu
menggunakan kantong ostomi, tapi klien menggunakan kantong ostomi internal yang
berasal dari ileum. Ujung kantong kemudian dijarit dan dianastomosis ke anus. Pada
prosedur ini reservoir atau kantung internal dibentuk dari potongsan usus halus
klien. Bagian kantung ditarik keluar ke abdomen klien sebagai sebuah stoma eksteral.
Tidak seperti stoma ostomi lainya, stoma eksternal dari ileostomi kontinen Kock
biasanya terletak sangat rendah pada abdomen klien. Biasanya garis celana dalam
klien. Pada bagian ujung kantung internal terdapat tonjolan katup satu arah,
yang memungkinkan pencapaian kontinensia. Katup ini hanya memungkinkan isi feses
keluar dari kantung jika kateter eksterna ditempatkan kedalam stoma secara
intermiten. Karena kandungan feses hanya dikeluarkan dari kantung Kock jika
diintubasi dengan kateter, tidak eperti individu lain yang menggunakan ostomi,
klien tidak perlu mengenakan sebuah kantung ostomi.
Sebuah Ostomi dapat menimbulkan perubahan
citra tubuh yang serius, terutama jika ostomi bersifat permanen. Klien sering
sering mempersepsikan stoma sebagai suatu bentuk pemotongan. Walaupun pakian
menutupi ostomi, klien merasa berbeda. Banyak klien memiliki kesulitan untuk
mempertahankan atau memulai hubungan seksual yang normal. Faktor penting dalam
reaksi klien adalah karakter sekresi feses dan kemampuan untuk mengontrolnya.
Bau busuk, tumpahan atau kebocoran feses yang encer dan ketidakmampuan mengatur
defekasi membuat klien kehilangan harga
diri.
E.
PROSES
KEPERAWATAN dan ELIMINASI FEKEL
1. Pengkajian
a. Riwayat
keperawatan
1) Pola
defekasi : frekuensi, pernah berubah
2) Prilaku
defekasi : penggunaan laksatif, cara mempertahankan pola
3) Deskripsi
feses: warna, bau, dan tekstur
4) Diet
: makanan yang mempengaruhi defekasi, makanan yang biasa dimakan, makanan yang
dihindari, dan pola makan yang teratur atau tidak
5) Cairan
: jumlah dan jenis minuman/ hari
6) Aktivitas
: kegiatan sehari-hari
7) Kegiatan
yang spesifik
8) Penggunaan
medikasi : obat-obatan yang mempengaruhi defekasi
9) Stress
: stress yang berkepanjangan atau pendek, koping untuk menghadapiatau bagaimana
menerima
10) Pembedahan/
penyakit menetap
b. Pemeriksaan
fisik
1) Abdomen
: distensi, simetris, gerakan peristaltic, adanya massa pada perut, tenderness
2) Rectum
dan anus : tanda-tanda imflamasi, perubahan warna, lesi, fistula, hemoroid,
adanya massa, tendernessi
c. Keadaan
feses
1) Konsistensi,
bentuk bau, warna, jumlah, unsur abnormal dalam feses, lendir
d. Pemeriksaan
diagnostic
1) Anuskopi
2) Proktosigmoidoskopi
3) Rontgen
dengan kontras
2. Diagnose
keperawatan
Gangguan
Eliminasi Fekel : Konstipasi
Perubahan pola yang normal dalam
berdefikasi dengan karakteristik menurunnya frekuensi buang air besar dan feses
yang keras. Kemungkinan berhubungan dengan :
a. Imobilitas
b. Menurunnya
aktivitas fisik
c. Ileus
d. Stress
e. Kurang
privasi
f. Menurunnya
mobilitas intestinal
g. Perubahan
atau pembatasan diet
Kemungkinan
data yang ditemukan :
a. Menuruunnya
bising usus
b. Mual
c. Nyeri
abdomen
d. Adanya
massa pada abdomen bagian kiri bawah
e. Perubahan
konsistensi feses, frekuensi buang air besar
Kondisi
klinis kemungkinan terjadi pada :
a. Anemia
b. Hipotiroidisme
c. Dialisa
ginjal
d. Pembedahan
abdomen
e. Paralisis
f. Cedera
spinal cord
g. Imobilitas
yang lama
Tujuan yang diharapkan :
a. Pasien
kembali ke pola normal dari fungsi bowel
b. Terjadi
perubahan pola hidup untuk menurunkan
factor penyebab konstipasi
3. Intervensi
|
NO.
|
INTERVENSI
|
RASIONAL
|
|
1.
|
Catat dan kaji kembali warna,
konsistensi, jumlah air,dan waktu buang air besar
|
Pengkajian dasar untuk mengetahui
adanya masalah bowel
|
|
2.
|
Kaji dan catat pergerakan usus
|
Deteksi dini penyebab konstipasi
|
|
3.
|
Lakukan pengeluaran manual dan lakukan
gliserin klisma
|
Membantu mengeluarkan feses
|
|
4.
|
Konsultasikan dengan dokter tentang pemeriksaan
laksatif, enema, dan pengobatan
|
Meningkatkan eliminasi
|
|
5.
|
Berikan cairan adekuat
|
Membantu feses lebih lunak
|
|
6.
|
Berikan makanan tinggi serat dan hindari makanan yang banyak mengandung
gas dengan konsultasi bagian gizi
|
Menurunkan konstipasi
|
|
7.
|
Bantu klien dalam melakukan aktivitas
aktif dan pasif
|
Meningkatkan pergerakan usus
|
|
8.
|
Berikan pendidikan kesehatan
|
Mengurangi/ menghindari inkontenensia
|
4. Implementasi
a. Mencatat
dan kaji kembali warna, konsistensi, jumlah air,dan waktu buang air besar
b. Mengkaji
dan catat pergerakan usus
c. Melakukan
pengeluaran manual dan lakukan gliserin klisma
d. Mengkonsultasikan
dengan dokter tentang pemeriksaan laksatif, enema, dan pengobatan
e. Memerikan
cairan adekuat
f. Memberikan
makanan tinggi serat dan hindari makanan
yang banyak mengandung gas dengan konsultasi bagian gizi
g. Membantu
klien dalam melakukan aktivitas aktif dan pasif
h. Memberikan
pendidikan kesehatan
5. Evaluasi
S = Subjective data(Data Subjektif ), Keluhan
pasien
O
= Objective data(Data Objaktif)
A
= Assessment(Pengkajian), Hasil dari
evaluasi, ada 3, yaitu
a. Tujuan
tercapai
b. Tujuan
tercapai sebagian
c. Tujuan
tidak tercapai
P
= Planning (Perencanaan), Pertahankan kondisi atau lanjutkan intervensi
Misalnya
:
S = Pasien mengatakan nyeri pada saat ingin buang
air besar
O =
Pasien tampak lebih nyaman dengan skala 3(0-10)
A = Masalah teratasi sebagian
P =
Lanjutkan intervensi
a.
Mengkaji
skala nyeri (0-10)
b.
Makan-makanan
yang berserat
c.
Banyak
minum air
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Eliminasi fekal merupakan proses pembuangan
sisa metabolisme tubuh yang tidak terpakai. Eliminasi yang teratur
dari sisa-sisa produk usus penting untuk fungsi tubuh normal. Perubahan
pada defekasi dapat menyebabkan masalah pada gastrointestinal dan bagian tubuh
lain karena sisa-sisa produk adalah racun. Jumlah fese yang dikeluarkanpun
berfarisasi jumlahnya tiap individu. Fese normal mengandung 75 % air dan 25 %
materi padat. Feses normal berwarna coklat karena adanya sterkobilin dan
uriubilin yang berasal dari bilirubin. Warna feses dapat dipengaruhi oleh kerja
Escherecia coli. Flatus yang dikeluarkan orang dewasa selama 24 jam yaitu 7-10
lt flatus dalam usus besar. Kerja mikroorganisme mempengaruhi bau feses. Fungsi
usus tergantung pada keseimbangan beberapa factor, pola eleminasi dan kebiasaan
masing-masing orang berbeda.
DAFTAR PUSTAKA
Potter & Perry.1999.Fundamental Keperawatan: konsep, proses, dan praktik, edisi 4.Jakarta:EGC.
Wartonah,Tarwoto.2006. Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses
Keperawatan.edisi 3.Jakarta:Salemba Medika
Tidak ada komentar:
Posting Komentar