CATATAN KEPERAWATAN

Rabu, 16 Januari 2013

Budaya Perawatan Bayi yang Berkembang, memang Benar ataukah hanya sekedar MITOS ???



  1. Pemberian ASI segera setelah lahir.
Dewasa ini, para dokter menganjurkan agar bayi yang baru lahir segera disusui. Hal ini bernilai positif karena kondisi ini adalah kontak kulit pertama bayi dengan ibunda tercinta. Sebuah kegiatan yang menciptakan ikatan batin yang tak ternilai. Bayi baru lahir bayi sudah dapat menangis dan bernapas dengan baik diletakkan di dada ibunya. Meski bayi belum dapat melihat dengan sempurna, ia akan akan merangkak mencari puting ibunya dan akan mulai menyusui. Susui sedari awal bayi dalam 30 menit setelah lahir. Kegiatan pengenalan awal dalam menyusui ini dikenal dengan istilah breast crawl atau dikenal juga dengan Inisiasi Menyusui Dini. Pemberian ASI dini ini akan merangsang keluarnya ASI selanjutnya.

  1. Penggunaan gurita dan bedong pada bayi
Sejatinya, bayi dipakaikan gurita dengan tujuan untuk menghangatkan bayi dan mencegah pusar bodong. Hal ini tidak dianjurkan karena memang tidak beralasan. Pemakaian gurita, apalagi bila dipakaikan terlalu ketat, dapat menekan dinding perut bayi sehingga tidak dapat secara bebas mengembang sewaktu bernapas. Alhasil, gurita akan menghalangi pernapasan bayi. Selain itu, gurita yang terlalu ketat juga akan menekan dinding perut sehingga dapat menyebabkan bayi lebih mudah muntah ataupun gumoh.
Sedangkan pemakaian bedong biasanya dengan tujuan mencegah kaki bayi bengkok. Hal ini juga tidak ada pembenarannya. Pembedongan bayi, sebenarnya lebih tepat bila ditujukan agar bayi merasa hangat dan tidur dengan tenang, namun dengan catatan, kenakan bedong dengan longgar. Yang sering terjadi adalah bayi dibedong terlalu rapat dan kuat. Padahal ini tidak boleh karena dapat mengganggu peredaran darah, menghambat pernapasan, dan juga dapat mengganggu perkembangan gerakan (motorik) bayi karena tangan dan kakinya tidak dapat bergerak dengan leluasa.

3.      Pemotongan tali pusat
Saat bayi dilahirkan, tali pusar (umbilikal) yang menghubungkannya dan plasenta ibunya akan dipotong meski tidak semuanya. Tali pusar yang melekat di perut bayi, akan disisakan beberapa senti. Sisanya ini akan dibiarkan hingga pelan-pelan menyusut dan mengering, lalu terlepas dengan sendirinya. Agar tidak menimbulkan infeksi, sisa potongan tadi harus dirawat dengan benar.  Dalam budaya Bali, plasenta dipisahkan dari bayi dengan membakar tali pusat. Pembakaran dalam kepercayaan Bali mengandung falsafah, bahwa dengan membakar tali pusat akan menarik seluruh energi daya kehidupan yang terpendam dalam plasenta selama ini. Sehingga bayi akan menjadi jiwa yang lengkap walaupun sudah terlepas dari plasenta.

4.      Penguburan ari-ari bayi
Diyakini orang Bali, dengan menanamkan ari-ari anak di halaman rumah akan membuat anak selalu ingat pulang atau kembali ke rumah. Secara medis, kepercayaan ini tidak ada hubungannya dengan kesehatan, pertumbuhan maupun perkembangan bayi. Jadi, kalaupun ari-ari dibuang begitu saja tidak menjadi masalah. Hanya saja, secara etika, memang ada baiknya jika ari-ari atau plasenta tidak dibuang begitu saja. Bagaimana pun juga, ari-ari merupakan bagian dari tubuh bayi. Ini juga menjadi langkah antisipasi agar tidak ada orang yang akan menyalahgunakan ari-ari dan plasenta ini untuk berbagai tujuan. Pada ari-ari dan tali pusat terdapat jaringan yang bisa dijadikan bahan dasar kosmetik. Selain itu, dalam plasenta maupun tali pusat terdapat stem cell, yang merupakan bibit kloning paling sempurna untuk membuat manusia baru. Tidak heran jika di negara-negara maju sudah dibuat undang-undang yang melarang penggunaan stem cell sebagai bibit kloning.

  1. Menjemur bayi kuning dibawah sinar matahari
Sebenarnya tidak perlu menjemur bayi kuning di bawah sinar matahari karena memang tidak ada manfaatnya. Kuning pada bayi akan menghilang dengan sendirinya pada minggu kedua. Namun bukan berarti hal ini dilarang. Hal ini boleh dilakukan namun jangan terlalu lama. Sinar matahari adalah sumber terbaik vitamin D. Lakukan selama kurang lebih 15 menit saja dibawah sinar matahari pagi tatkala matahari belum terlalu tinggi dan ini tidak perlu dilakukan setiap hari.

B.     Peran dan Fungsi Perawat dalam Perawatan Bayi Baru Lahir
Indonesia yang terkenal dengan ragam budayanya yang memiliki bermacam-macam tradisi atau kepercayaan dalam perawatan bayi baru lahir. Berbagai hal dari yang biasa-biasa saja, sampai yang tidak masuk akal sering sekali mereka lakukan. Tenaga medis perlu melakukan pengkajian terhadap hal ini. Apakah tindakan atau kebudayaan yang dilakukan ibu-ibu itu berbahaya, mengganggu, ataupun menguntungkan. Supaya nantinya dapat mengubah dan mengarahkan pola pikir yang kuno itu menjadi modren dengan pembaharuan kesehatan. Tentunya demi kesehatan ibu dan anak.

Sesuai peran dan fungsinya, perawat berkewajiban untuk memberikan KIE kepada masyarakat khususnya para ibu dalam perawatan bayi baru lahir. KIE yang dapat diberikan ialah dalam hal sebagai berikut :

  1. Pemberian ASI
ASI adalah makanan yang terbaik bagi bayi. ASI memang terbukti paling unggul dan merupakan makanan terbaik bagi bayi. ASI memiliki banyak manfaat, yaitu :
a.        ASI mengandung semua kebutuhan gizi yang diperlukan bayi.
b.      ASI mengandung zat gizi yang mudah dicerna bayi.
c.       Produksi ASI sesuai dengan kebutuhan bayi.
d.      ASI mengandung berbagai zat anti sehingga bayi tidak mudah terkena infeksi.
e.       ASI tidak mengandung kuman.
f.       ASI selalu segar dan tidak pernah basi serta bisa diberikan kapan saja dan dimana saja.
g.      ASI dapat mencegah alergi.
h.      ASI akan mempererat hubungan batin antara ibu dan anaknya.

Maka dari itu pemberian ASI secara ekslusif hingga bayi berusia 6 bulan sangatlah penting. Yang dimaksud dengan pemberian ASI secara eksklusif di sini adalah pemberian ASI tanpa makanan dan minuman tambahan lain pada bayi berumur 0 - 6 bulan. Setelah bayi berumur 6 bulan, baru ia mulai diperkenalkan dengan makanan padat, sedangkan ASI dapat terus diberikan sampai bayi berusia 2 tahun atau lebih.

Menyusui pun ada ilmunya. Cara menyusui yang benar dapat dilakukan dengan cara-cara berikut :
a.       Letakkan wajah bayi menghadap ke payudara dengan cara menyangga kepala bayi dengan satu tangan. Posisi ini akan membuat kepala bayi lebih tinggi daripada dada dan perutnya (seperti posisi setengah duduk).
b.      Dekaplah bayi dengan lembut sehingga perutnya akan bersentuhan dengan perut ibu. Dengan tangan yang lain, sangga payudara agar mudah dicapai oleh mulut bayi.
c.       Pastikan puting payudara dan bagian sekitar areola (bagian berwarna hitam yang mengelilingi puting payudara) masuk ke dalam  mulut bayi. Biarkan bayi mengisap sampai kenyang dan penting pula, biasakan ia mengisap dari kedua payudara ibu.

Posisi menyusui sambil berdiri yang benar
Posisi menyusui sambil berdiri yang benar (Perinasia, 1994)

Posisi menyusui sambil duduk yang benar
Posisi menyusui sambil duduk yang benar (Perinasia, 1994)

Posisi menyusui sambil rebahan yang benar
Posisi menyusui sambil rebahan yang benar (Perinasia, 1994)

  1. Perawatan tali pusat
Tali pusat bayi bukan hiasan semata. Perawatan perlu dilakukan agar tidak terjadi infeksi sebelum tali pusat lepas dengan sendirinya (istilahnya disebut dengan puput). Prinsipnya adalah menjaga puntung tali pusat supaya tetap bersih dan kering hingga dapat lepas dengan sendirinya. Berikut ialah cara merawat tali pusat  :
a.       Saat memandikan bayi, usahakan tidak menarik tali pusat. Membersihkan tali pusat saat bayi tidak berada di dalam bak air. Hindari waktu yang lama bayi di air karena bisa menyebabkan hipotermi.
b.      Setelah mandi, utamakan mengerjakan perawatan tali pusat terlebih dahulu.
c.  Perawatan sehari-hari cukup dibungkus dengan kasa steril kering tanpa diolesi dengan alkohol. Jangan pakai betadine atau antiseptic karena yodium yang terkandung di dalamnya dapat masuk ke dalam peredaran darah bayi dan menyebabkan gangguan pertumbuhan kelenjar gondok.
d.     Jangan mengolesi tali pusat dengan ramuan atau menaburi bedak karena dapat menjadi media yang baik bagi tumbuhnya kuman.
e.   Bila menggunakan popok, lipat popok dibawah pusat, tidak membalut talipusat. Hal ini dimaksudkan agar ketika si kecil buang air kecil, talipusat tidak basah terkena air kencing.
f.       Tetaplah rawat tali pusat dengan menutupnya menggunakan kasa steril hingga tali pusat lepas secara sempurna. Talipusat umumnya lepas dalam waktu 5 hari hingga 7 hari meski kadang ada yang sampai dua minggu.

  1. Cara memandikan bayi yang baik
Sebenarnya, bayi tidak perlu dimandikan (yakni dengan mencelupkan ke dalam bak mandinya) dalam 1 – 2 minggu pertama. Namun bayi harus tetap dibersihkan dan dikeringkan setiap kali pipis atau buang air besar. Kalau puntung talipusat belum puput, bayi cukup dibersihkan dengan lap saja karena puntung talipusat yang basah, cenderung menimbulkan infeksi. Gunakan air hangat-hangat kuku. Bukalah pakaiannya dan segera selimuti dengan handuk. Buka daerah tubuh bayi yang akan dilap saja agar bayi tidak kedinginan. Untuk wajah, tidak perlu menggunakan sabun. Gunakan sabun untuk mengelap bagian tubuh lainnya. Jangan lupa bersihkan juga daerah selangkangannya.
Kalaupun lebih memilih untuk memandikan si bayi, tidak mengapa. Yang penting ialah mengetahui caranya. Bila talipusat belum puput, ibu dapat menyelupkan ke dalam bak mandi kecil khusus si kecil. Bayi boleh dimandikan di dalam bak mandi kecil. Gunakan air hangat-hangat kuku. Masukkan bayi secara perlahan-lahan. Mula-mula, basuhlan wajah, bagian kepala, kemudian seluruh tubuhnya tanpa menggunakan sabun. Lalu basuh kembali tubuh dan bagian lainnya dengan sabun, kemudian dibilas. Bila talipusat belum puput, segera keringkan talipusatnya seusai mandi dan olesi dengan alkohol 70%.

  1. Bayi sebaiknya tidak ditidurkan dalam keadaan tengkurap.
Di negara kita, kebanyakan bayi ditidurkan dalam posisi yang alami yakni terlentang. Dulu, kerap dianjurkan agar bayi ditidurkan dalam posisi tengkurap atau telungkup. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari bahaya tersedak atau aspirasi, yakni istilah untuk masuknya makanan ke dalam saluran pernapasan saat bayi muntah. Padahal, yang dapat terjadi justru sindrom kematian mendadak pada bayi yang ditidurkan telungkup. Lain hal bila bayi sudah dapat tengkurap dengan sendirinya, biarkan ia mencari sendiri posisi tidurnya yang nyaman. Jadi dianjurkan, sebelum bayi berusia 4 bulan, sebaiknya tidak menidurkan bayi dalam posisi telungkup atau tengkurap.

  1. Perhatikan napas bayi yang berbunyi grok-grok tidak selalu berarti pilek
Pada bayi hingga usia beberapa bulan, rongga hidungnya masih sempit terutama saat pagi hari atau udara dingin. Alhasil, napasnya menjadi berbunyi grok-grok. Jadi, bukan berarti pilek. Tidak perlu diobati karena akan hilang dengan sendirinya dalam beberapa minggu.
Penyebab lainnya, adalah adanya peningkatan produksi lendir yang biasanya dialami bayi dengan bakat alergi atau bila ada infeksi misalnya influensa. Jadi, yang perlu dicermati adalah apakah bayi ada alergi atau infeksi yang biasanya ditandai dengan adanya demam.

  1. Makanan tambahan selain ASI tidak dianjurkan diberikan sebelum usia 6 bulan
Makanan tambahan baru boleh diberikan setelah bayi berusia 6 bulan. Sampai usia 6 bulan, sebenarnya ASI saja sudah cukup memenuhi semua kebutuhan nutrisi bayi. Kondisi ini juga berlaku untuk yang mendapatkan susu formula (karena tidak bisa mendapatkan ASI), makanan tambahan tetap diberikan pada usia 6 bulan. Memberikan makanan tambahan sebelum usia 6 bulan memberikan risiko tersedak yang lebih besar dan lebih mudah terjadi alergi. Kematangan saluran cerna bayi umumnya terjadi pada usia 4 hingga 6 bulan termasuk kematangan mekanisme menelan.
Sejenak, kalau kita mencermati, sebelum usia 6 bulan, bayi akan menunjukkan penolakan terhadap makanan bila disuapi. Bayi akan melakukan refleks mendorong dengan lidahnya semua benda padat yang masuk mulutnya, kecuali puting susu atau dot yang sudah dikenal sebelumnya. Refleks ini akan menghilang sendirinya saat usia 6 bulan. Artinya, secara alami, bayi memang tidak perlu diberikan makanan tambahan selain ASI.

  1. Berikan imunisasi untuk bayi
Imunisasi diperlukan untuk memberikan perlindungan bagi bayi dari penyakit infeksi. Bayi yang baru lahir perlu mendapat imunisasi BCG, polio, dan hepatitis B. Ikuti program imunisasi yang diwajibkan pemerintah antara lain: vaksin BCG, polio, hepatitis B, DTP dan campak, yang bisa diperoleh gratis di puskesmas atau posyandu. Dan program imunisasi yang dianjurkan seperti MMR, Tifoid, Hepatitis A, Varisela, IPD (pneumokokus) dan influensa, penting juga diikuti ibu. Hanya saja, untuk program imunisasi yang dianjurkan ini, harus menyediakan dana sendiri karena tidak bisa didapatkan secara gratis.



DAFTAR PUSTAKA

Markum AH, dkk. 2002. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak Jilid I. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Sastroasmoro S. 2007. Membina tumbuh kembang bayi dan balita. Jakarta : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia.
Staa Karel A, Meiliasari M. 2005. Menjadi dokter anak di rumah. Jakarta: Puspa Swara. 

ASKEP GANGGUAN CAIRAN dan ELEKTROLIT


ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn.RS
DENGAN GANGGUAN CAIRAN dan ELEKTROLIT
DI RUANG RAWAT INAP LANTAI II RS.GANESHA
TANGGAL 02-05 Agustus 2012

I.       PENGKAJIAN

1.       Identitas
a.      Identitas Pasien
Nama                        : Tn.RS
Umur                        : 33 Tahun
Agama                      : Hindu
Jenis Kelamin           : Laki-Laki
Status                        : Menikah
Pendidikan                : SMA
Pekerjaan                  : Swasta
Suku Bangsa             : Indonesia
Alamat                      : Br. Satria Blahbatuh
Tanggal Masuk         : 30 Juli 2012
Tanggal Pengkajian   : 02 Agustus 2012
No. Register              : 029477
Diagnosa Medis        : Diare Akut


b.      Identitas Penanggung Jawab
Nama                        : Ny.A
Umur                        : 36 Tahun
Hub. Dengan Pasien : Istri
Pekerjaan                  : Swasta
Alamat                      : Br. Satria Blahbatuh

2.      Status Kesehatan
a.      Status Kesehatan Saat Ini
1)   Keluhan Utama (Saat MRS dan saat ini)
           Pada saat MRS dan pengkajian, pasien mengeluh lemas di seluruh badannya.

2)   Alasan masuk rumah sakit dan perjalanan penyakit saat ini
      Sekitar 2 bulan yang lalu pasien mengalami diare dan dibawa ke dokter lalu diberi obat dan injeksi, namun tidak sembuh-sembuh. Kemudian keluarga mencoba pengobatan non-medis, dan dikatanya pasien terkena penyakit magic, namun tidak sembuh juga. Setelah beberapa minggu kondisi pasien semakin memburuk, sehingga istri pasien membawa pasien ke RS.Ganesha pada tanggal 30 juli 2012, pada pukul 20.00 Wita.  Sesampainya di RS pasien langsung dirujuk ke IGD, keadaan pasien saat itu lemes, pusing, dan enek di bagian ulu hati, sehinggga perawat memberikan tindakan medis seperti memasang infus, mengukur TTV dan akhirnya dibawa ke ruang rawat inap lantai 2 RS.Ganesha.
      Pada saat pengkajian pasien mengeluh masih sedikit pusing, enek di ulu hati serta saat BAB fesesnya masih encer dan bercampur darah .

3)   Upaya yang dilakukan untuk mengatasinya
      Hal yang pertama dilakukan keluarga pasien adalah membawa pasien berobat ke dokter.

b.      Satus Kesehatan Masa Lalu
1)      Penyakit yang pernah dialami
      Pasien mengatakan bahwa ia pernah mengalami penyakit seperti batuk, pilek, dan demam.

2)   Pernah dirawat
      Pasien mengatakan bahwa ia tidak pernah dirawat di rumah sakit sebelumnya.

3)   Alergi
      Pasien mengatakan bahwa ia tidak mempunyai riwayat alergi terhadap obat-obatan ataupun makanan

4)   Kebiasaan (merokok/kopi/alkohol dll)
      Pasien mengatakan bahwa ia memiliki kebiasaan minum kopi 3xsehari, minum alkohol hampir setiap hari dan dimulai sejak SMA, serta kebiasaan merokok 7 batang per hari.

c.       Riwayat Penyakit Keluarga
           Pasien mengatakan bahwa ia maupun keluarganya tidak mempunyai riwayat penyakit keluarga ataupun keturunan, seperti DM, asma, penyakit jantung, maupun hipertensi.


d.      Diagnosa Medis dan therapy
1)      Diagnose medis : Diare Akut
2)      Therapy
JENIS
NAMA OBAT
DOSIS
RUTE
Injeksi
IVFD RL+kCl IA
20 tpm
Intravena
Injeksi
Levolin
1x1 fls
Intravena
Tablet
Tri mexol forte
3x1 mg
Oral
Tablet
Trans fector
3x2 mg
Oral
Tablet
Govasol
1x1 mg
Oral
Tablet
Ripal bumin
3x2 mg
Oral

3.      Pola Kebutuhan Dasar ( Data Bio-psiko-sosio-kultural-spiritual)
a.       Pola Persepsi dan Manajemen Kesehatan
      Pasien mengatakan bahwa gaya hidupnya kurang baik, karena ia memiliki
kebiasaan minum kopi 3xsehari, minum alkohol hampir setiap hari dan dimulai sejak SMA, serta kebiasaan merokok 7 batang per hari.

b.      Pola Nutrisi-Metabolik
·   Sebelum sakit  :  Pasien mengatakan bahwa ia biasa makan 4x sehari dengan 1 porsi. Menunya seperti nasi, daging, sayur, dan makanan habis dalam 1 porsi. Pasien biasa minum air putih ± 9 gelas/hari dan sering minum-minumanan yang beralkohol. Berat badannya 55kg dan tinggi badannya 165cm.
·   Saat sakit         : Pasien mengatakan bahwa nafsu makannnya menurun, ia makan 3x sehari 1 porsi dengan menu bubur dan sayur bening, tetapi masih bersisa, dan biasa minum air putih ±5 gelas/hari. Berat badannya 50kg dan tinggi badannya 165cm.

c.       Pola Eliminasi
1)   BAB
·   Sebelum sakit    : Pasien mengatakan bahwa ia biasa BAB setiap pagi hari dengan bentuk faces padat, warna feses kuning, bau khas feses, dan feses tidak bercampur darah.
·   Saat sakit           : Pasien mengatakan bahwa ia BAB ± 5x/hari dengan bentuk fases encer, feses berwarna kuning, feses bercampur darah,terdapat sedikit lendir  dan berbau obat.
2)   BAK
·   Sebelum sakit    : Pasien mengatakan bahwa ia biasa BAK secara normal dengan karakteristik urin cair, warnanya kuning, bau khas urine, serta tidak bercampur darah.
·   Saat sakit         : Pasien mengatakan bahwa ia BAK ±4 x/hari, dengan karakter urinenya kuning pekat dan berbau obat.

d.      Pola aktivitas dan latihan
1)   Aktivitas
Kemampuan Perawatan Diri
0
1
2
3
4
Makan dan minum
ü   




Mandi


ü   


Toileting


ü   


Berpakaian


ü   


Berpindah


ü   


0: mandiri, 1: Alat bantu, 2: dibantu orang lain, 3: dibantu orang lain dan alat, 4: tergantung total

2)  Latihan
·   Sebelum sakit    : Pasien mengatakan bahwa ia biasa melakukan aktivitas sehari-hari seperti bekerja
·   Saat sakit           : Pasien mengatakan bahwa ia tidak bisa melakukan  aktivitas seperti sebelum sakit.
 
e.       Pola kognitif dan Persepsi
     Status mental pasien sadar, dapat berbicara dengan normal dan tidak ada gangguan pada kemampuan membaca serta berinteraksinya, pendengaran dan penglihatan pasien normal. Pasien mengatakan bahwa ia mengetahui penyakitnya.

f.       Pola Persepsi-Konsep diri
     Pasien mengatakan bahwa ia terganggu baik harga diri, konsep diri, ideal diri, identitas diri, dan gambaran dirinya.

g.       Pola Tidur dan Istirahat
·   Sebelum sakit    : Pasien mengatakan bahwa ia sering tidur larut malam, biasanya tidur 8 jam sekitar dari pukul 01.00 Wita sampai dengan 09.00 Wita, ia tidur dengan nyenyak.
·   Saat sakit           : Pasien mengatakan bahwa ia tidak bisa tidur dengan nyenyak, biasanya ia tidur pukul 20.00 Wita dan sering terbangun.

h.      Pola Peran-Hubungan
     Pasien mengatakan bahwa dukungan keluarganya sangat berpengaruh dalam proses penyembuhannya.

i.        Pola Seksual-Reproduksi
   Pasien mengatakan bahwa ia mempunyai 1 orang anak laki-laki yang masih bersekolah.


j.        Pola Toleransi Stress-Koping
     Pasien mengatakan bahwa ia tidak dapat makan dan minum-minuman kesukaannya, ia hanya bisa menahan keinginannya tersebut, tetapi tidak sampai membuatnya depresi hanya saja merasa sedih karena penyakitnya menggagalkan semua rencana kegiatannya. Pasien memiliki keinginan keras untuk sembuh.

k.      Pola Nilai-Kepercayaan
     Pasien mengatakan bahwa ia beragama hindu dan biasanya bersembahyang ke pura pada hari-hari tertentu saja. Saat sakit ia biasa lebih sering berdoa di tempat tidur saja.

4.    Pengkajian Fisik
a.    Keadaan umum : Lemas
Tingkat kesadaran : komposmetis / apatis / somnolen / sopor/koma
GCS         : verbal=5, Psikomotor = 6, Mata = 4

b.   Tanda-tanda Vital : Nadi =           60 , Suhu = 37̊C, TD = mmHg,              RR = 20
c.    Keadaan fisik
a.       Kepala  dan leher       :
           Bentuk kepala pasien normal simetris, tidak terlihat adanya alopesia, warna rambut hitam, kebersihan cukup, tidah terdapat luka pada kulit kepala dan wajah, tidak ada nyeri tekan, tidak teraba massa. Alis dan mata terlihat simetris, tidak terdapat udim palpebra, sklera aninterik, pupil isokor miosis, konjungtiva anemis. Hidung simetris, tidak terlihat adanya serumen, penyebaran silia merata, tidak teraba massa dan nyeri tekan pada sinus frontalis, sinus etmoidalis, sinus spenoidalis, dan sinus masilaris. Telinga simetris, tidak terlihat adanya serumen dan discart, tidak terlihat adanya betelsains, tidak teraba massa dan nyeri tekan pada tragus, cartilago, dan aurikul. Mulut simetris, mukosa bibir kering, tidak terlihat adanya stomatitis. Leher terlihat simetris, tidak terlihat adanya hiperpigmentasi, tidak terlihat adanya lesi, tidak terlihat peningkatan JVP, tidak teraba massa pada kelenjar tiroid dan kelenjar limfe.

b.      Dada  :
·   Paru
        Bentuk paru terlihat simetris, tidak terlihat adanya lesi dan udim, terlihat adanya tatto,tidak teraba massa dan nyeri tekan, terdengar suara sonor pada ICS 2-8.
·   Jantung
        Terlihat iktus kordis,terdengar suara S1 dan S2 tunggal reguler tidak teraba massa dan nyeri tekan.

c.       Payudara dan ketiak   :
           Bentuk payudara terlihat simetris, tidak terlihat adanya lesi dan udim, tidak terlihat hiperpigmentasi, tidak teraba massa dan nyeri tekan.

d.      Abdomen       :
           Tidak terlihat adanya hiperpigmentasi,tidak terlihat adanya lesi pada abdomen. Terdengar gerakan peristaltik ±37 kali/menit. Terdapat nyeri tekan pada abdomen. Terdengar suara pekak.

e.       Genetalia        :
           Tidak terkaji

f.       Integumen :
           Tidak terlihat adanya lesi dan udim, tidak terlihat hiperpigmentasi, terlihat adanya tatto di bagian tangan, kaki, dada dan punggung, kulit terlihat kering dan turgor kulit tidak elastis.

g.       Ekstremitas     :
·         Atas
      Tangan terlihat simetris, tidak terlihat adanya lesi dan udim, tidak terlihat hiperpigmentasi, terlihat adanya tatto, dan turgor kulit kering, terjadi refleks bisep, dan kekuatan otot 4.
·         Bawah
     Kaki terlihat simetris, tidak terlihat adanya lesi dan udim, tidak terlihat hiperpigmentasi, terlihat adanya tatto, dan turgor kulit kering, terjadi refleks babinskyn, terjadi refleks patela, dan kekuatan otot 4.

h.      Neurologis      :
·   Status mental da emosi :
      Ekspresi wajah pasien tampak sedih dan kesal karena harus bolak-balik toilet
·   Pengkajian saraf kranial :
      Semua saraf kranial yang mengatur panca indra pasien berfungsi secara normal
·   Pemeriksaan refleks :
      Semua refleks pada pasien berfungsi secara normal

b.      Pemeriksaan Penunjang
1.      Data laboratorium yang berhubungan
Hematologi rutin pada tanggal 30 Juli 2012
JUMLAH SEL DARAH
HASIL
SATUAN
NILAI RUJUKAN
Hemoglobin (HGB)
-10,5
g/dl
13,0-18,0
Hematokrit (HTC)
-31,8
%
40-52
Lekosit (WBC)
7,80
10^3/UL
3,8-10,6
Trombosit (PLT)
346
10^3/UL
150-440
Eritrosit (RBC)
-3,64
10^3/UL
4,5-6,5
RDW
12,9
%
10-16
MPV
-7,1
fL
7,2-11,1
PCT
0,2
%
0,2-0,5
MCV
87,4
fL
80-100
MCH
28,8
Pg
26-34
MCHC
33,0
Pg
32-36
Limfosit %
10,7
%
20-35
Monosit %
3,3
%
2-8
Gran %
86,0
%
50-80
Lymp #
0,80
10^3/UL
1-5
Monosit #
0,30
10^3/UL
0,1-1
Gran #
6,50
10^3/UL
2-8

Pemeriksaan pada tanggal 1 Agustus 2012
NAMA PEMERIKSAAN
HASIL
NILAI RUJUKAN
SATUAN
KET.
FUNGSI HATI
Albumin

2,6*

3,4-4,8

g/dl

ELEKTROLIT
Natrium (Na)
Kalium (K)
Chloride (Cl)

138
2,2*
9,8

135-147
3,5-5,0
98-106

mmol/L
mmol/L
mmol/L



2.      Pemeriksaan radiologi : -
3.      Hasil konsultasi : -
4.      Pemeriksaan penunjang diagnostic lain :-


 ANALISA DATA
A.     Tabel Analisa Data
NO.
DATA
ETIOLOGI
MASALAH
1.
DS :
·     Pasien mengatakan biasa minum air putih ±5 gelas/hari.
·     Pasien mengatakan bahwa ia BAK ±4 x/hari, dengan karakter urinenya kuning pekat dan berbau obat.
DO :
·  Kulit pasien terlihat kering dan turgor kulit tidak elastis
·  konjungtiva anemis
·  mukosa bibir kering
TD     = mmHg
Kondisi menurun

Kekurangan volume cairan
2.
DS :
·  Pasien mengatakan bahwa nafsu makannnya menurun, ia makan 3x sehari 1 porsi dengan menu bubur dan sayur bening, tetapi masih bersisa
·  Pasien mengatakan bahwa ia BAB ± 5x/hari dengan bentuk fases encer, feses berwarna kuning, feses bercampur darah,terdapat sedikit lendir  dan berbau obat.
·  Pasien mengatakan berat badannya 50kg dan tinggi badannya 165cm
·  Pasien mengatakan sedikit pusing
DO:
·  Konjungtiva anemis
·  Wajah pasien terlihat pucat
·  Pasien terlihat lemas
·  Mukosa bibir kering
Kondisi menurun

Ketidakseimbangan nutrisi, kurang dari kebutuhan tubuh
3.
DS :
·   Pasien mengatakan bahwa ia tidak bisa tidur dengan nyenyak, biasanya ia tidur pukul 20.00 Wita dan sering terbangun.
DO:
·  Wajah pasien terlihat pucat
·  Terlihat adanya lingkaran hitam pada sekitar mata pasien
Nyeri abdomen
Insomnia


B.     Tabel Daftar  Diagnosa Keperawatan /Masalah Kolaboratif Berdasarkan Prioritas

NO
TANGGAL / JAM DITEMUKAN
DIAGNOSA KEPERAWATAN
TANGGAL
TERATASI
Ttd
1.
2-8-2012
Pkl. 11.00
Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan ditandai dengan pasien mengatakan biasa minum air putih ±5 gelas/hari, pasien mengatakan bahwa ia BAK ±4 x/hari, dengan karakter urinenya kuning pekat dan berbau obat, kulit pasien terlihat kering dan turgor kulit tidak elastis, konjungtiva anemis, mukosa bibir kering, dan TD     = mmHg
5-8-2012

2.
2-8-2012
Pkl. 11.00
Ketidak seimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan untuk mengabsorpsi nutrien ditandai dengan pasien mengatakan bahwa nafsu makannnya menurun, ia makan 3x sehari 1 porsi dengan menu bubur dan sayur bening, tetapi masih bersisa, pasien mengatakan bahwa ia BAB ± 5x/hari dengan bentuk fases encer, feses berwarna kuning, feses bercampur darah,terdapat sedikit lendir  dan berbau obat, pasien mengatakan berat badannya 50kg dan tinggi badannya 165cm, pasien mengatakan sedikit pusing, konjungtiva terlihat anemis, wajah pasien terlihat pucat, pasien terlihat lemas dan mukosa bibir kering
5-8-2012

3.
2-8-2012
Pkl. 11.00
Insimnia berhubungan dengan tidur terputus ditandai dengan pasien mengatakan bahwa ia tidak bisa tidur dengan nyenyak, biasanya ia tidur pukul 20.00 Wita dan sering terbangun, wajah pasien terlihat pucat, dan terlihat adanya lingkaran hitam pada sekitar mata pasien.
5-8-2012



C.     Rencana Tindakan  Keperawatan
Hari/
Tgl
No Dx
Rencana Perawatan
Ttd
Tujuan dan Kriteria Hasil
Intervensi
Rasional
Kamis,
2-8-2012

1
Setelah diberikan askep selama 3x24 jam, diharapkan volume cairan pasien dapat kembali normal, dengan KH :
·   Turgor kulit dapat kembali elastic kembali dalam 3 detik
·   Mukosa bibir lembab
·   Tidak terjadi dehidrasi
·   TTV :
TD =
S    = 36-37 ̊C
N   = 60-90
·   RR = 12-20
·   Kaji tanda vital, contoh TD, frekuensi jantung, nadi, dan suhu (kesamaan dan volume
·   Catat perubahan mental, turgor kulit, hidrasi, membrane mukosa, dan karaktersputum

·   Ukur/hitung masukan, pengeluaran, dan keseimbangan cairan. Catat kehilangan tak tampak.
·   Timbang berat badan

·   Kaji tanda vital, contoh TD, frekuensi jantung, nadi, dan suhu
·   Berikan cairan IV dalam observasi ketat dengan alat control sesuai indikasi



·   Awasi/ganti elektrolit sesuai indikasi
·  Kekurangan / perpindahan cairan meningkatkan frekuensi jantung, menurunkan TD, dan mengurangi volume nadi.
·   Penurunan curah jantung mempengaruhi perfusi/ fungsi serebral. Kekurangan cairan juga dapat diidentifikasi dengan penurunan turgor kulit, membrane mukosa kering, dan viskositas secret kental.
·   Memberikan informasi tentang status cairan umum. Kecenderungan keseimbangan cairan negatifdapat menunjukan terjadinya deficit.
·   Perubahan cepat menunjukkan gangguan dalam air tubuh total
·   Untuk membedakan TTV normal klien dengan keadaan pada saat sakit.
·   Memperbaiki/mempertahankan volume sirkulasi dan tekanan osmotic. Catatan meskipun kekurangan cairan, pemberian dapat mengakibatkan peningkatan kongesti paru, pengaruh negative fungsi pernafasan
·   Elektrolit khususnyakalium dan natrium mungkin menurun sebagai akibat terapi diuretic

Kamis,
2-8-2012






2.
















Setelah diberikan askep selama 3x24 jam, diharapkan asupan makanan pasien dapat kembali normal, dengan KH :
·   Nafsu makan kembali normal
·   Karakteristik feses dapat kembali normal
·   Tubuh pasien dapat kembali sehat
·   BB pasien dari 50kg  menjadi 53kg.





·   Buat jadwal masukan tiap jam. Anjurkan mengukur cairan/ makanan dan minuman sedikit demi sedikit atau makan dengan perlahan
·   Timbang berat badan


·   Tekankan pentingnya menyadari kenyang dan menghentikan masukan
·   Beritahu pasien untuk duduk saat makan/ minum
·   Diskusikan yang disukai pasien dan masukan dalam diet murni
·   Kaji tanda vital, contoh TD, frekuensi jantung, nadi, dan suhu
·   Rujuk ke ahli gizi

·   Berikan tambahan vitamin B12 injeksi, folat, dan kalsium sesuai indikasi
·      Setelah tindakan pembagian, kapasitas gaster menurun kurang lebih 50 ml, sehingga perlu makan sering



·      Pengawasan kehilangan dan alat pengkajian kebutuhan nutrisi/ keefektifan terapi
·      Makan berlebihan dapat menyebabkan mual/muntah atau kerusakan operasi pembagian
·      Menurunkan kemungkinan aspirasi

·      Dapat meningkatkan masukan, meningkatkan rasa berpartisipasi/ control

·      Untuk membedakan TTV normal klien dengan keadaan pada saat sakit.
·     Perlu bantuan dalam perencanaan diet yang memenuhi kebutuhan nutrisi
·     Tambahan dapat diperlukan untuk mencegah anemia karena gangguan absorpsi. Peningkatan motilitas usus setelah prosedur bypass merendahkan kadar kalsium dan meningkatkan absorpsi oksalat, dimana dapat menimbulkan pembentukan batu urine.

Kamis,
2-8-2012












3.














Setelah diberikan askep selama 3x24 jam diharapkan pola tidur pasien dapat kembali normal, dengan KH:
·   Pasien dapat tidur dengan nyenyak
·   Tidak terlihat lingkaran hitam pada mata
·   Pasien tidak terjaga





·   Batasi masukan makanan/ minuman mengandung kafein



·   Dukung kelanjutan kebiasaan ritual sebelum tidur
·   Pastikan kebiasaan defekasi pasien dan gaya hidup sebelumnya.
·   Tinjau ulang pola diet dan jumlah/ tipe masukan cairan


·   Libatkan pasien dalam perawatan ostomi secara bertahap

·   Berikan analgesic, sedative saat tidur sesuai indikasi
·     Kafein dapat memperlambat pasien untuk tidur dan mempengaruhi tidur tahap REM, mengakibatkan pasien tidak merasa segar saat bangun.
·     Meningkatkan relaksasi dan kesiapan untuk tidur

·     Membantu dalam pembentukkan jadwal irigasi efekttif  untuk pasien kolostomi
·     Masukan adekuat dari serat dan makanan kasar memberikan bulk, dan cairan adalah factor penting dalam penentuankriteria feses.
·     Rehabilitasi dapat dipermudah dengan mendorongpasien mandiri dan terkontrol
·      Nyeri mempengaruhi pasien untuk jatuh/tertidur




D.           Implementasi Keperawatan
Hari/ Tgl/Jam
No. Dx
Tindakan Keperawatan
Evaluasi proses
Ttd

Kamis,
02-08-2012
Pkl.
07.00Wita
Pkl.
08.15Wita

Pkl.
08.15Wita



Pkl.
08.15Wita

Pkl.
11.00Wita




Pkl.
16.10Wita


Pkl.
16.10Wita

Pkl.
22.00Wita
3
Mengganti alat tenun
DS : pasien mengatakan bersedia diganti alat tenunnya
DO : tempat tidur pasien terlihat lebih bersih

1,2
Menimbang berat badan pasien
DS: Pasien mengatakan  bersedia diukur berat badannya
DO: BB pasien 50kg

1,2
Memberikan cairan IV RL

DS: Pasien mengatakan bersedia dipakaikan infus
DO: obat dimasukkan melalui injeksi dan tidak terlihat adanya reaksi alergi.

1,2
Memberikan obat oral tri mexol forte, trans fector, govasol
DS: pasien bersedia diberikan obat
DO: obat diberikan secara oral

1,2
Mengkaji TTV
DS : pasien mengatakan lemas dan nyeri saat menelan
DO:
Nadi  = 80
Suhu  = 37 ̊C
TD     = mmHg,
RR     = 20

1,2
Menanyakan asupan makanan/ minuman
DS : pasien mengatakan tidak nafsu makan
DO : makanan pasien terlihat masih tersisa

1,2
Memberikan obat oral
DS: pasien bersedia diberikan obat
DO: tidak terlihat adanya reaksi alergi

1,2
Memberikan obat oral
DS: pasien bersedia diberikan obat
DO: tidak terlihat adanya reaksi alergi

Jum’at,
03-08-2012
Pkl.
05.00Wita




Pkl.
05.15Wita


Pkl.
07.05Wita


Pkl.
08.15Wita


Pkl.
08.15Wita


Pkl.
11.00Wita





Pkl.
16.05Wita





Pkl.
17.05Wita


Pkl.
17.05Wita


Pkl.
22.05Wita
1,2
Mengkaji TTV
DS : pasien mengatakan lemas, nafsu makan menurun
DO:
Nadi  = 80
Suhu  = 38,3 ̊C
TD     = mmHg
RR     = 20

3
Memandikan pasien
DS : pasien menolak untuk dimandikan
DO: pasien dimandikan oleh keluarganya

3
Mengganti alat tenun
DS : pasien mengatakan lebih nyaman
DO : tempat tidur pasien terlihat lebih bersih

1,2
Mengganti cairan infuse
DS : pasien bersedia diganti infusnya
DO : Infus berjalan dengan lancar


1,2
Memberikan obat tri mexol forte, trans fector, govasol, ripal bumin
DS: pasien bersedia diberikan obat
DO: tidak terlihat adanya reaksi alergi

1,2
Mengkaji TTV
DS : pasien mengatakan lemas
DO:
Nadi  = 80
Suhu  = 37,3 ̊C
TD     = mmHg
RR     = 20

1,2
Mengkaji TTV
DS : pasien mengatakan pusing dan enek di ulu hati
DO:
Nadi  = 80
Suhu  = 36,7 ̊C
TD     = mmHg
RR     = 20

1,2
Memberikan obat oral tri mexol forte
DS: pasien bersedia diberikan obat
DO: tidak terlihat adanya reaksi alergi

1,2
Mengganti cairan infuse
DS : pasien bersedia diganti infusnya
DO : Infus berjalan dengan lancar

1,2
Memberikan obat oral tri mexol forte, trans fector, , ripal bumin
DS: pasien bersedia diberikan obat
DO: obat diberikan secara oral

Sabtu,
04-08-2012
Pkl.
05.00Wita





Pkl.
05.20Wita


Pkl.
07.15Wita



Pkl.
10.15Wita
Pkl.
10.15Wita

Pkl.
11.15Wita





Pkl.
16.15Wita






Pkl.
17.15Wita

Pkl.
17.15Wita

Pkl.
17.15Wita
Pkl.
22.15Wita
1,2
Mengkaji TTV





DS: pasien mengatakan masih lemas
DO:
Nadi  = 80
Suhu  = 36,7 ̊C
TD     = mmHg
RR     = 20


3
Memandikan pasien
DS : pasien menolak untuk dimandikan
DO: pasien dimandikan oleh keluarganya


3
Mengganti alat tenun
DS : pasien mengatakan lebih nyaman dan dapat tidur dengan nyenyak
DO : tempat tidur pasien terlihat lebih bersih dan lingkaran hitam pada mata terlihat berkurang

1,2
Mengganti cairan infuse
DS : pasien bersedia diganti infusnya
DO : Infus berjalan dengan lancar

1,2
Memberikan obat oral tri mexol forte, trans fector, , ripal bumin, govasol
DS: pasien bersedia diberikan obat
DO: tidak terlihat adanya reaksi alergi

1,2
Mengkaji TTV




DS : pasien mengatakan sudah tidak pusing
DO:
Nadi  = 80
Suhu  = 37, ̊C
TD     = mmHg
RR     = 20


1,2
Mengkaji TTV
DS : Pasien mengatakan minumnya ± 7 gelas /hari
DO : mukosa bibir terlihat kering, turgor kulit tidak elastic, TTV-nya :
Nadi  = 80
Suhu  = 36,7 ̊C
TD     = mmHg
RR     = 20

1,2
Memberikan obat oral tri mexol forte, trans fector, , ripal bumin
DS: pasien bersedia diberikan obat
DO: tidak terlihat adanya reaksi alergi

1,2
Menanyakan asupan makanan/ minuman
DS : pasien mengatakan nafsu makan menurun
DO : makanan pasien terlihat masih bersisa

1,2
Mengganti cairan infuse
DS : pasien bersedia diganti infusnya
DO : Infus berjalan dengan lancar

1,2
Memberikan obat oral tri mexol forte
DS: pasien bersedia diberikan obat
DO: tidak terlihat adanya reaksi alergi


E.           Evaluasi Keperawatan
No
Hari/Tgl
Jam
No Dx
Evaluasi
TTd
1.
Minggu,
5-8-2012
Pkl 16.15 Wita
1.
S = Pasien mengatakan minumnya ± 7 gelas /hari
O = mukosa bibir terlihat kering, turgor kulit tidak elastic, TTV :
Nadi  = 80
Suhu  = 36,7 ̊C
TD     = mmHg
RR     = 20
A = masalah teratasi sebagian
P = lanjutkan intervensi
·         Memberikan minum seperti air putih
·         Mengkaji TTV


2.
Minggu,
5-8-2012
Pkl 17.15 Wita
2.
S = Pasien mengatakan nafsu makannya menurun
O = makanan pasien terlihat masih bersisa
A = Masalah teratasi sebagian
P = lanjutkan interv
ensi
·         Menganjurkan makan dengan perlahan
·         Mengkaji karakteristik feses pasien
·         Menimbang berat badan pasien


3.
Minggu,
5-8-2012
Pkl 07.15 Wita
3.
S =  pasien mengatakan lebih nyaman dan dapat tidur dengan nyenyak
O = tempat tidur pasien terlihat lebih bersih  dan lingkaran hitam pada mata terlihat berkurang
A = Masalah sudah teratasi
P = Pertahankan kondisi